Sabtu, 25 Juni 2011

Arab Saudi Bukan Negara Islam, tetapi “Negara Ngawur”

Oleh: Muhibbuddin Al Insaniyah
Kompasiana | 25 Juni 2011 | 15:37

Dari kejadian kasus Ruyati ini, berkembang pandangan bahwa Saudi Arabia hanya berani melawan seorang pembantu rumah tangga, tetapi tidak berani meng-qishash dan menghukum pejabat Amerika dan Israil yang jelas-jelas membantai ribuan umat Islam, terutama di dekatnya, di Palestina.

Tulisan ini sebenarnya berjudul “Arab Saudi Bukan Negara Islam, tetapi “Negara Iblis”. Berhubung pertimbangan penulis, seandainya menggunakan kata “Iblis” terlihat kurang sopan, maka “kata “Iblis” penulis ganti dengan kata “Ngawur”, dengan tetap memiliki arti kata sama dengan “Iblis”, yang dalam kata santunnya, “Ngawur”. Maksudnya “Ngawur” itu ya, “Iblis” itu.

Memperhatikan Arab Saudi atau Saudi Arabia, sungguh miris dan memprihatinkan. Kebijakan-kebijakan negara tersebut kadangkala membuat kita sendiri bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kondisi dan standard keislamannya, sebagaimana saat ini Saudi Arabia mengklaim sebagai negara Islam.

Tulisan ini bukan ekspresi maupun ungkapan emosi adanya eksekusi mati terhadap saudara kita, Ruyati, tetapi jauh ke dalam birokrasi dan alur visi misi pemerintah Saudi Arabia sendiri, baik dalam kancah regional maupun internasional. Pemerintah Saudi Arabia yang berbentuk Monarki Absolut Islam, mengklaim sebagai negara yang mendukung pelaksanaan syariat Islam. Sementara syariat Islam itu sendiri ditafsirkan secara “semaunya sendiri” menurut kepentingan dan kedudukan masing-masing pejabatnya.

Kita tidak menafikan peran Saudi Arabia dalam dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia, pada masa awal sejarah kemerdekaan Indonesia dekade 1940-an. Tetapi apa yang kita saksikan selama 2 dekade terakhir, tidak mencerminkan sebagai negara yang menjunjung tinggi keadilan, kemashlahatan dan kemanusiaan umat manusia. Pemerintah (baca: Kerajaan) tidak lagi memiliki visi yang jelas dan spesifik untuk menciptakan keadilan dan perdamaian umat manusia. Kerajaan ini menganut tirani yang kuat, kakinya menginjak umat manusia yang di bawah, sementara tangannya ke atas menjunjung penguasa Amerika Serikat, menjadi pengemis dan pembantu bagi Amerika Serikat, dengan indikator selarasnya pandangan politik Kerajaan Saudi Arabia dengan pandangan politik Amerika Serikat, baik di kancah regional maupun internasional, dengan contoh jelas tidak adanya upaya serius untuk membela saudaranya Palestina.

Di satu sisi, Saudi Arabia seolah-olah hendak melaksanakan Syariat Islam, di mana Syariat Islam bertujuan untuk membela kelangsungan umat manusia, tetapi di sisi lain, berlindung di ketiak Paman Sam, dan mengemis dukungan militer sejadi-jadinya, hanya karena Amerika Serikat memiliki perangkat perang yang canggih dan dianggap mampu melindungi Saudi Arabia. Ini kontradiksi, satu membela kekuatan, satunya menghancurkan yang lemah yang tidak memiliki kekuatan.

Jika memang ingin menerapkan Syariat Islam, maka langkah pertama adalah melepaskan diri dari pengaruh hegemoni yang tiran semacam Amerika (Amerika di sini sebagai contoh saja), menjadikan diri sebagai negara yang merdeka dan tidak menjadi pengikut negara lainnya, dalam kondisi apapun. Tanpa independensi ini, maka pelaksanaan Syariat Islam, akan diupayakan dan akan disalahgunakan untuk menindas yang lemah dan tak berdaya, sebagaimana kasus Ruyati, di mana qishash hanya dijalankan terhadap pembantu rumah tangga, tetapi tidak untuk mereka yang memiliki kedudukan di masyarakatnya.

Dari kejadian kasus Ruyati ini, berkembang pandangan bahwa Saudi Arabia hanya berani melawan seorang pembantu rumah tangga, tetapi tidak berani meng-qishash dan menghukum pejabat Amerika dan Israil yang jelas-jelas membantai ribuan umat Islam, terutama di dekatnya, di Palestina.

..........TERKAIT..........

3 komentar:

  1. Yang nagawur bukan pemerintah Arab Saudi, tapi Anda yang ngawur. Tuduhan Anda bahwa Arab Saudi menjadi "pengemis dan pembantu bagi Amerika Serikat" sangat tidak berdasar. Jangan-jangan Anda terpengaruh oleh media pemerintah Iran yang Syiah (sesat dan menyesatkan) yang memang sangat benci kepada negara ahlus sunnah (dalam hal ini Arab Saudi).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arab Saudi kok Ahl as-sunnah? Negara yang dipimpin turun-temurun oleh satu keluarga itu ahli sunnah? Sunnah mbahmu?

      Hapus
  2. Sy MUHIBBUDDIN adl penulis dr artikel di atas, dn mempertimbangkan banyak hal perkembangan dunia, saya membatalkan opini di atas. Mohon admin ini untuk menghapus dr penerbitan di blog dan afiliasinya. Terima kasih

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...