Rabu, 02 November 2011

Saat Wuquf adalah Saat Musyahadah

Pada tanggal 9 Dzulhijjah, umat Islam yang melaksanakan ibadah haji melakukan wuquf di Arafah. Haji mereka tidak sah tanpa wuquf. Dari sana mereka ke Mudzdalifah, kemudian ke Mina untuk melempar jumrah, dan selanjutnya berkorban dan berlebaran.

Dalam pandangan kaum sufi, boleh jadi ada yang memandang Ka’bah, wuquf, dan sebagainya namun tidak mencapai makna haji. Karena itu mereka berujar: “Yang tidak berada bersama Tuhan di Makkah, bagaikan berkunjung ke rumah tak berpenghuni, dan yang tak berkunjung ke rumah Tuhan tetapi merasakan kehadiran-Nya maka Tuhan telah mengunjungi rumahnya. Aku heran terhadap mereka yang mencari Ka’bah-Nya di sana, mengapa tidak menyaksikan-Nya di hati mereka? Yang tergelap di dunia ini adalah rumah kekasih tanpa kekasih.”

Dalam pandangan kaum sufi: “Man nazarail al-khalaq halak, wa man nazarail Al-Haqq malak” (Siapa yang memandang kepada makhluk akan binasa dan siapa yang memandang kepada Tuhan akan kuasa). Haji adalah suatu mujâhadah (upaya jiwa yang bersungguh-sungguh), demi mencapai musyâhadah (penyaksian). Ketika engkau singgah di Arafah, apakah engkau telah singgah barang sejenak dalam musyâhadah (menyaksikan dengan hati) kepada Tuhanmu? Kalau tidak maka engkau belum wuquf.

Fudhail bin Iyadh menyampaikan sebuah riwayat: “Aku melihat di bukit Arafah seorang pemuda berdiri tenang dengan menundukkan kepala, sementara semua orang berdoa dengan suara keras. Kemudian aku bertanya kepadanya: ‘Mengapa ia diam?’ Ia menjawab: ‘Aku kehilangan keadaan ruhaniah.’ ‘Berdoalah bersama orang banyak, mudah-mudahan Allah mengabulkan keinginanmu,’ ucapku. Ketika ia hendak mengangkat tangannya dan berdoa, tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya dan wafat di sana.”

Dzunnun Al-Mishri berkata: “Di Mina aku melihat seorang remaja duduk dengan tenang ketika orang-orang sedang sibuk berkorban. Aku menghampirinya dan kudengar ia berbisik: ‘Wahai Tuhan! Aku ingin mengorbankan jiwa rendahku kepada-Mu, apakah Engkau menerimanya?’ Setelah itu aku melihat ia mengarahkan jari telunjuk ke tenggorokannya dan seketika itu pula ia menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga Allah mengasihinya.”

Saat wuquf adalah saat musyâhadah. Ada dua macam musyâhadah, yaitu kepercayaan yang sempurna dan kehangatan cinta yang membara. Dengan keterbakaran cinta, orang akan mengalami fana’ (lebur dirinya dan hilang sama sekali) sehingga tidak ada yang disaksikannya kecuali siapa yang dicintainya. Ia akan iri kepada segala sesuatu, walaupun kepada matanya sendiri. “Sungguh aku iri kepada mataku sendiri, dan kututup mataku bila aku melihat-Mu,” kata Al-Junaid ketika berdialog dengan Tuhan.

Aisyah, istri Nabi saw., berkata bahwa Rasul memberitahukan kepadanya bahwa beliau tidak melihat Tuhan ketika mi'raj, tetapi Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasul melihat-Nya. Keduanya benar, Rasul tidak melihat-Nya (dengan pandangan mata) itu yang disampaikan Rasul kepada Aisyah yang formalis. Dan beliau melihat-Nya (dengan mata hati) sebagaimana penyampaian Ibnu Abbas yang spiritualis.

Jika Anda telah berkunjung ke rumah Tuhan, maka undanglah Tuhan ke rumah Anda melalui musyâhadah, niscaya Anda akan menyaksikan-Nya.[]

Lentera Hati: M. Quraish Shihab

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...