Jumat, 04 November 2011

SASTRA ITU AGAMA

From: Mang Ucup (mangucup@tref.nl)
Subject: [SP] Sastra itu Agama
Newsgroups: soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia
Date: 2001-07-22 21:57:08 PST

Apakah sastra dan agama itu sama? Karena semua hasil karya fiksi yang tertulis bisa digolongkan sebagai sastra. Mulai dari sastra hasil karya seniman kagetan sampai pada hasil karya stensilan dari seniman porno Enny Arrow. Semua hasil karya mereka itu bisa disebut sebagai hasil sastra. Begitu juga dengan hasil karya novelis picisan, sampai pada karya novelis pop ala La Rose, semuanya itu bisa dibilang karya sastra.

Jadi yang bisa dinilai sebagai karya sastra bukan hanya karangan Shakespeare, yang bisa merangkai kata-kata begitu ruwet untuk menghipnotis para pembacanya. Salah satu bukti, misalnya, buku cerita silat karangan Gan K.L. terbitan tahun 1960. Bagi banyak orang karya-karya Gan K.L., yang mungkin dianggap sebagai roman picisan itu, ternyata telah dimasukkan dalam koleksi karya sastra di perpustakaan Cornell University di Amerika Serikat.

Begitu pula dengan agama. Entah itu agama gelap, agama terang, agama besar atau agama gurem, agama benar atau agama sesat sekalipun, semuanya bisa dinilai sebagai agama. Entah itu "Agama Ucup" yang agama gurem, dan hanya memiliki satu orang pengikut saja, entah itu agama besar seperti Kristen, Islam, atau Budha yang memiliki ratusan juta jemaat. Semuanya bisa dinilai sebagai agama. Bahkan aliran setan sekalipun, rumah kebaktiannya bisa disebut "gereja". Siapa berhak dan bisa melarang?

Agama menciptakan berbagai ajaran dan Tuhan, seperti halnya sastrawan menghasilkan karya sastra. Segala bentuk ada di sana, dari yang konyol sampai yang berseni tinggi, dari yang murah hati sampai yang pelit. Ada proses mencari jawaban, ada rasionalisasi maupun sebaliknya, ada bumbu keindahan, dongeng, nilai moral, tesis-antitesis, dan terkadang berikut dengan sintesisnya.

Hanya sangat disayangkan, bahwa di Indonesia jarang ada sastrawan yang bisa menjadi kaya. Namun demikian yang didapat seorang seniman, adalah kepuasan batin dalam berkarya, dan itu sangat sulit diperoleh. Banyak orang tidak memahami kedudukan sastra dan sastrawan sebagaimana mestinya. Sastra dan sastrawan hanya dianggap sebagai pelipur lara.

Apakah Anda tahu, bahwa ada penyair yang bisa meramalkan dengan tepat tahun kematiannya dalam puisinya? Anda setidaknya pernah mendengar nama Ki Hadjar Dewantara seorang tokoh pendidikan yang mencetuskan "Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso". Namun, tahukah Anda bahwa salah seorang cucunya, Shanti, adalah seorang penyair?

Shanti ditinggal oleh ayahnya ketika ia baru berusia 7 tahun, karena ayahnya - Bambang Sokawati Dewantara - ditahan sebagai tapol. Shanti meninggal dunia dalam usia 20 tahun, akibat kecelakaan lalu lintas di Jakarta. Dalam upacara penguburannya, dibacakan sajak Shanti yang berjudul "Puisi Terakhir Menjelang Ajalku" bertanggal medio Desember 1976. Di dalam sajak ini, secara aneh dan sangat mengagumkan Shanti telah mampu meramalkan kematiannya, bahkan cara bagaimana ia akan mati pun telah diramalkannya sendiri. Yaitu bahwa ia "akan mati ditelan jalan" dan bahwa kematian itu "tepat pada usiaku ke-20 nanti kutinggalkan kalian semua".

Hanya 15 bulan jarak waktu terpisah antara sajak ramalan itu dengan tanggal hari kematiannya.

Setiap orang membutuhkan proses untuk menemukan dirinya sendiri, yang satu bisa menemukannya melalui sastra sedangkan yang lain melalui agama. Ibarat cermin, sastra akan membuat wajah setiap insan jelas terbaca. Lihat saja puisi-puisi dari penyair Chairil Anwar, setiap orang akan menemukan puisi Chairil yang cocok dengan isi hatinya. Seorang Muslim akan menemukan puisi "Di Mesjid", seorang Kristen menemukan sajak "Doa" dan "Isa". Seorang yang romantis menemukan "Taman", sedangkan seorang manusia skeptis serta kesepian akan menemukan puisi seperti "Kesabaran" dan "Hampa".

Begitu juga Chairil Anwar. Walaupun ia bukan tokoh yang religius, tetapi pada saat ajalnya tiba, di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap "Tuhanku, Tuhanku ..." Bahkan iapun pernah menulis, dalam salah satu sajaknya, mengenai datangnya kematian "di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin", dan Chairil kemudian memang dimakamkan di Pemakaman Karet.

Citra kepenyairan Indonesia sudah melekat dalam sosok Chairil. Bahkan sejumlah lirik puisi Chairil telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan sementara orang Indonesia. Misalnya: "Aku ini binatang jalang", "Hidup hanya menunda kekalahan", "Aku mau hidup seribu tahun lagi", dan masih banyak lagi. Hampir setiap siswa sekolah menengah tahu, siapa penyair Indonesia yang kondang ini. Mereka hafal nama lengkapnya bahkan juga beberapa judul syairnya. Puisi pertamanya "Nisan", ditulis pada umur 20 tahun, ketika teknik persajakan belum dikuasainya benar. Inilah puisi itu:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan tak bertakhta.

Sajak "Nisan" ini, ditulis Oktober 1942, sebenarnya ditujukan untuk neneknya yang baru saja meninggal. Tetapi sekaligus juga merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang dirasainya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun. Renungannya ini lalu mengantar Chairil pada pertanyaan eksistensial: "Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?" Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan.

Mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich, seorang bisa dinilai sebagai religius, apabila mereka mulai secara serius mencoba berusaha untuk mengerti, makna hidup ini secara lebih jauh, lepas dari batasan lahiriahnya. Chairil termasuk kelompok orang yang demikian ini. Pertanyaan itu rupanya terus mengganggu Chairil, sehingga akhirnya ia menyerah dan menulis sajak "Doa" sebagai ekspresi penyerahan dirinya kepada Tuhan. Ia berseru:

Doa
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu


Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh


cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi


Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing


Tuhanku
di pintumu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling.

Maranatha
Mang Ucup

Email: mangucup@mangucup.com
Homepage: http://www.mangucup.com/
IDX01UMUM

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...