Rabu, 01 April 2015

Cendekiawan Muslim

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "cendekia" antara lain diartikan sebagai "cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar", sedangkan "cendekiawan" artinya adalah "orang yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu".

Dalam Al-Quran kita dapat menemukan sifat dan peranan mereka dari sejumlah ayat yang menggunakan kata "ilmu" atau "ulama" dan ulul albab. Dua kali kata ulama disebut dalam Al-Quran: pertama dikemukakan dalam konteks ajakan memperhatikan fenomena alam (QS 35: 28) dan kedua dalam konteks uraian tentang kebenaran Kitab Suci ini (QS 26: 197). Dengan demikian, yang dimaksud cendekiawan adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci dan atau yang terhampar di alam raya.

Lebih jauh lagi jika kita amati ayat-ayat yang berbicara tentang "ilmu", dalam berbagai bentuknya, yang terulang sebanyak 854 kali (bersama kata-kata lain yang semakna), maka secara jelas ditemukan bahwa Al-Quran menekankan keharusan bagi ilmuwan untuk bersikap khasyah (takut), istislam (berserah diri [kepada Allah]), al-infitah (keterbukaan) dalam arti kesediaan untuk memberi dan menerima dari dan untuk siapa pun tanpa mempertimbangkan usia atau lokasi, dan insaniyah yakni mengabdikan hasil pengetahuan untuk kemanusiaan tanpa membedakan agama, ras, atau bangsa.

Penjabaran dari sikap atau sifat ini nampak dengan jelas pada ungkapan seperti "tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina"; "tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad"; "hikmah adalah dambaan setiap Muslim, dari mana pun sumbernya, dia lebih berhak memilikinya"; "ilmu tanpa pengabdian bagaikan pohon tanpa buah", dan lain-lain.

Di sisi lain, para ulama atau cendekiawan dinilai Al-Quran sebagai telah mewarisi Kitab Suci (baca QS 38: 32) dalam arti memahami dan mengaktualkan fungsi Al-Quran sebagai "pemberi putusan bijaksana dan jalan keluar bagi perselisihan dan problem umat manusia" (baca QS 2: 213). Dari istilah ulul albab, yang dalam Al-Quran terulang sebanyak 16 kali, ditemukan bahwa mereka memiliki tiga ciri utama, yakni berzikir, memikirkan atau mengamati fenomena alam, dan berkreasi (lihat QS 3: 190-195).

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa para cendekiawan memiliki dua tuntutan besar. Pertama, mempelajari Kitab Suci dalam rangka memahami, menyebarluaskan, dan menerapkan nilai-nilainya di tengah-tengah masyarakat yang sangat beragam kebutuhan dan problemnya. Kedua, mengamati ayat-ayat Tuhan di alam raya ini, baik dalam diri manusia secara perorangan maupun berkelompok, di samping juga mengamati fenomena alam dan kemudian berkreasi. Hal ini berarti bahwa mereka harus selalu peka terhadap kenyataan-kenyataan alam dan sosial, dan bahwa peran mereka tidak sekadar merumuskan atau mengarahkan tujuan-tujuan, tetapi juga sekaligus memberi contoh pelaksanaan dan sosialisasinya.[]

M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, halaman 358-360

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...