Jumat, 01 Mei 2015

Seni dan Budaya Islam Bagaikan Matahari

Budaya bangsa yang bernafaskan Islam menjadi ciri Festival Istiqlal yang pernah diselenggarakan di Indonesia. "Budaya" secara sempit dapat dipahami sebagai "seni", dan dapat pula dipahami secara luas sehingga mencakup segala aktivitas dari budi daya manusia serta seluruh pengetahuan dan pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah laku manusia.

Adapun "nafas Islam" tidak mudah untuk merumuskannya. Walaupun demikian, isyarat maknanya dapat ditemukan, antara lain, dalam surah Al-Quran, yaitu surah yang berbicara dalam konteks seni. Surah Al-Syams---demikian nama surah itu---memulai uraiannya tentang pemandangan alam:

Matahari dan cahanya ketika naik sepenggalahan, bulan saat menyusul matahari, siang dan benderangnya, malam dan keheningannya, serta langit dalam pembinaan, dan bumi dengan penghamparannya (ayat 1-6)

Setelah itu, pada ayat berikutnya, berbicara tentang manusia dan ilham yang diperolehnya, yang menghasilkan kedurhakaan dan ketakwaan, dan yang mengakibatkan keberuntungan dan kesengsaraan (ayat 7-10). Kemudian surah ini juga berbicara tentang Kaum Tsamud, yang dilukiskan dalam ayat lain sebagai memiliki keterampilan dan keahlian luar biasa dalam bidang seni pahat. Bukan saja patung yang mereka ciptakan, tetapi istana-istana, bahkan gunung pun mereka pahat (ayat 74).

Kepada mereka diutus Nabi Shaleh untuk membawa bukti kebenaran Ilahi dan sejalan dengan keterampilan mereka, yaitu "unta hidup yang tercipta dari batu gersang". Mereka diperintahkan memberi minum dan memelihara "karya seni ciptaan Tuhan ini" (ayat 13), karena, melalui unta itu pun mereka dapat hidup---bukan saja karena, konon, perahan susunya menghidupi mereka, tetapi yang pasti adalah kehadiran unta itu dapat mengantarkan mereka kepada "kehidupan abadi" berkat kesadaran religius yang seharusnya dilahirkan dari karya seni Ilahi yang Mahasempurna.

Akibat dikalahkan oleh karya seni ciptaan Tuhan itu, keangkuhan kaum Tsamud pun nampak. Keangkuhan ini mengantarkan mereka membunuh unta, dan karenanya jatuhlah palu godam Tuhan atas diri mereka (ayat 11-15).

Demikian surah ini yang dengan penuh keserasian dan keindahan menguraikan secara runtut pemandangan alam, manusia, dan ilham yang menghasilkan budaya atau seni, baik yang terpuji maupun yang tercela, serta contoh karya seni yang sempurna, yakni yang hidup, memberi kehidupan, serta kewajiban memeliharanya.

Itulah sebagian ciri budaya yang bernafaskan Islam yang diisyaratkan dalam surah Al-Syams (Matahari). Penamaan ini sendiri seakan sebagai isyarat bahwa karya seni dan budaya harus selalu bagaikan matahari dengan aneka sifat dan fungsinya.

Seniman dan budayawan bebas melukiskan apa saja. Selama ciri di atas terpenuhi, maka karyanya dinilai sebagai bernafaskan Islam.

Tidak terlarang melukiskan atau menggambarkan kelemahan manusia. Al-Quran pun melukiskannya, bahkan cumbu-rayu dan hubungan seksual dijelaskan dengan bahasa yang halus, terselubung, tidak menimbulkan rangsangan atau mengundang tepuk tangan bagi yang berselera rendah. "Ditutupnya pintu rapat-rapat sambil berkata 'ayo kemari';" inilah rayuan istri penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf yang diabadikan dalam Al-Quran (QS 12: 23).

Dewasa ini, banyak karya seni yang hidup. Gambar pun dihidupkan melalui bioskop dan televisi. Hanya saja, sering kali gambar hidup itu mematikan kesadaran religius penontonnya, bahkan kadang menuntun penonton ke kebinasaan. Yang demikian itu, menurut surah Al-Syams adalah karya yang mengilhamkan kedurhakaan, dan mereka ini sungguh-sungguh merugi dan wajar apabila mendapatkan palu godam Ilahi.[]

M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, halaman 369-371.

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...