Sabtu, 31 Desember 2016

Belajar pada Abdul Sattar Edhi [Catatan Sosial 2016]

Di penghujung 2016 ini, saya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama belajar lebih banyak dari Abdul Sattar Edhi, pekerja sosial asal Pakistan, yang wafat 8 Juli 2016 lalu. Bagi saya, dia guru kemanusiaan terbesar tahun ini dan kita belum cukup memberi penghargaan kepadanya.

Ketika Edhi akan dimakamkan lewat suatu upacara di Stadion Nasional Karachi, sebelum dikebumikan di makam yang digalinya sendiri, massa berduyun-duyun ikut mengusung peti jenazahnya, yang dibalut bendera hijau-putih (Pakistan).


Kematian Edhi, yang seperti malaikat penolong bagi banyak orang miskin di negeri itu, yang dikenal lewat pasukan ambulansnya yang selalu siaga menolong siapa saja, membawa duka mendalam.

Tapi Nawaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan, juga menyatakan berduka. “Edhi permata sejati dan aset Pakistan. Kami kehilangan pelayan kemanusiaan yang luar biasa. Dia manifestasi cinta kepada orang-orang yang rentan, miskin, tertindas, dan sulit mendapat pertolongan,” katanya.

Kegagalan Negara

Kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya bergejolak di benak sang Perdana Menteri saat itu—dan apa makna dukanya. Sebab, yang pertama-tama ditunjukkan Edhi sepanjang hayatnya adalah bahwa negara telah gagal mengurusi warganya—dan bahwa tiap warga harus siap mengurus diri sendiri. Yang ironis, negara itu adalah negara yang menyebut diri “Negara Islam” dan yang didirikan persis karena alasan keagamaan itu, hampir 70 tahun sebelumnya.

Inilah yang menjadi awal kerja-kerja sosial Edhi. Lahir di Gujarat (kini di India), pada 1928, Edhi dan keluarganya yang Muslim harus pindah ke Karachi (kini di Pakistan) pada 1947: mereka jadi korban konflik sektarian yang membelah anak-benua Indo-Pakistan (disebut Partition).

Di tanah baru ini, ibunya, yang sudah lama sakit-sakitan, wafat ketika Edhi 19 tahun. Dalam satu peristiwa mengenaskan, Edhi harus membawa ibunya ke rumah sakit dan diberitahu bahwa di kota itu hanya ada satu ambulan dan itu milik Palang Merah Internasional.

Trauma di atas mendorong Edhi memulai kerja-kerjanya. Dia juga amat kecewa melihat lingkungan sekitarnya, “di mana ketidakadilan, sogok-menyogok dan perampokan sangat umum terjadi.” Dia mulai dengan membuka toko obat kecil di samping rumahnya, yang menawarkan obat-obatan sederhana, berapa pun bayarannya.

Tempat itu kini masih menjadi rumahnya yang sederhana, yang ditinggali juga oleh istri dan empat anaknya. “Saya kira itu kewajiban saya sebagai manusia,” kata Edhi mengenang langkah-langkah awalnya dulu. “Saya dapat pastikan bahwa pemerintahan kami tidak akan mengurusi layanan-layanan sosial seperti itu.”

Pada 1957, dia mendirikan Yayasan Edhi untuk menerima donasi dalam rangka membangun tenda-tenda rumah sakit bagi korban flu Hong Kong yang mengancam kala itu. Dari seorang pengusaha, dia memperoleh dana untuk membeli mobil ambulan yang dibawanya sendiri untuk menjemput orang-orang sakit. “Itulah pertama kalinya saya memperoleh kepercayaan yang besar,” katanya.

Pada 1965, Edhi menikahi Bilquis Bano, seorang perawat di satu klinik miliknya. Dinakhodai Bilquis, Yayasan Edhi lalu membangun rumah bersalin gratis dan membantu proses adopsi anak-anak yatim atau bayi-bayi “terbengkalai”. Mereka menyiapkan keranjang bayi di banyak tempat untuk siapa saja yang tak menghendaki bayinya. Mereka juga mengumumkan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk tujuan yang sama, tanpa minta keterangan siapa sang ibu atau lainnya. Di samping kantornya ada ayunan bayi dan tulisan “Jangan Bunuh Anakmu.”

Salah satu periode paling mengerikan bagi Edhi dan Balquis adalah perang 1965 antara India dan Pakistan, ketika Karachi dibom. Selain merawat mereka yang terluka dan sekarat, keduanya harus memandikan 45 mayat (Edhi yang laki-laki, Bilquis perempuan) dan menyiapkan pemakaman mereka. Dalam memoarnya, A Mirror to the Blind (1996), Edhi terang-terangan mengecam mereka yang merasa jijik dan terlalu suci untuk menyentuh tubuh orang-orang mati.

Sejak itu hingga sekarang, Yayasan Edhi menjadi organisasi besar yang memberikan layanan ambulan, klinik, rumah yatim, bank darah, dan banyak lagi yang lainnya—semuanya gratis atau dengan bayar seadanya. Yayasan itu paling dikenal berkat 1.800 mobil ambulannya, yang selalu tiba pertama, lebih dulu dibanding yang lain, di tempat kejadian.

Salah satu momen penting dalam karir Edhi terjadi pada Mei 2002, ketika polisi menemukan jasad Daniel Pearl, reporter Wall Street Journal yang dibunuh jaringan teroris di Karachi. Ketika tak seorang pun mau mengurusnya, Edhi tampil mengumpulkan sisa-sisa tubuhnya (maaf: yang tercerai-berai menjadi sepuluh potongan), “membersihkannya”, dan membawanya ke bandara.

Karachi memang salah satu kota dengan tingkat kekerasan tertinggi di dunia. Tapi bahkan di kota ini pun kelompok-kelompok yang biasa saling serang tunduk kepada satu “kode etik”: jika ambulans Edhi tiba, semua tembak-menembak harus berhenti, agar para relawan Edhi bisa mengumpulkan mereka yang mati atau terluka dan membawa mereka pergi.

Pemerintah Pakistan wajib malu kepada Edhi dan yayasannya, karena yayasan itu kini merupakan organisasi layanan sosial terbesar di negara itu. Sejak didirikan, yayasan itu telah menampung sekitar 20.000 bayi yang ditelantarkan, merawat sekitar 50.000 anak yatim, dan melatih lebih dari 40.000 perawat. Dan yang paling Edhi kagumi: jumlah armada ambulansnya kini terbesar yang dijalankan organisasi non-pemerintah di dunia. Jika Anda di Pakistan dan sekarat tanpa sejawat sama sekali, telepon saja Edhi!

“Ambulans Saya lebih Muslim dibanding Kalian”

Banyak orang menyebut Edhi seorang “filantropis”. Mungkin semacam miliarder Bill Gates di Amerika Serikat atau lembaga Dompet Dhuafa di Indonesia. Meski tak pernah menemukan informasi bahwa Edhi terang-terangan menolak penyebutan itu, saya duga dia belum tentu gembira mendengarnya.

Yayasan Edhi tak bergerak seperti umumnya filantropi modern bekerja. Selain bukan orang kaya, dia sendiri hanya mengumpulkan donasi langsung yang diberikan kepadanya. Hingga wafatnya, Edhi terus menunggu donatur yang datang—dan tak seorang pun minta bukti pembayaran darinya. Dia menolak dana dari pemerintah dan pergi ke mana-mana dengan ambulansnya, siapa tahu ada seseorang yang butuh bantuan di perjalanan. Pada 1991, dia pernah minta supaya dia tidak diundang ke banyak acara, karena “itu hanya akan menghabiskan waktu saya untuk membantu orang-orang lain.”


Dalam Yayasan Edhi, tidak ada birokrasi yang ruwet dan makan biaya, dan semua orang bekerja sebagai sukarelawan. Para dokter, perawat, dan sopir ambulans diharapkan membantu tanpa bayaran. Dalam satu adegan These Birds Walk (2013), film dokumenter tentang Edhi, kita menyaksikan bagaimana seorang sopir ambulansnya keteteran harus menjemput seorang anak yang kabur dari panti asuhan tapi hendak kembali lagi.

Yayasan Edhi juga dikenal imparsial, tidak memihak kelompok mana pun. Ketika suatu kali ditanya mengapa dia melayani semua orang tanpa pandang bulu, tanpa mendahulukan mereka yang Muslim, Edhi menjawab, “karena ambulans saya lebih Muslim dibanding kalian.”

Ini pula yang mendorong Edhi untuk tak membatasi kiprahnya hanya di Pakistan. Pada 2005, ketika Hurricane Katrina menghantam Amerika Serikat, Yayasan Edhi mendonasikan US$100.000 kepada para korban.

Karena keteguhannya memegang prinsip ini, Edhi sering menjadi target serangan kalangan konservatif dan radikal Muslim di Pakistan, yang menuduhnya atheis atau “kafir”. Tak heran jika dia kerap diancam mau dibunuh.

Edhi tak pernah menggubris kecaman-kecaman seperti ini. Umum dikenal berkat janggut putihnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam, dia hanya menjawab, “Agama saya adalah mengabdi kepada kemanusiaan dan saya percaya bahwa semua agama di dunia punya dasar-dasar kemanusiaan.” Kitab suci, katanya lagi, “harus terpancar dari jiwamu… Bukalah hatimu dan lihatlah para hamba Tuhan ini. Dalam penderitaan mereka, kamu akan menemukan-Nya.”

Nobel Perdamaian

Edhi kadang disebut “The Mother (Father) Teresa of Pakistan”, merujuk kepada kerja-kerja kemanusiaan Bunda Teresa di India, yang dianugerahi Nobel Perdamaian (1979). Meskipun dimaksudkan sebagai pujian, perbandingan ini tidak fair dan tidak memadai, karena keduanya bekerja dalam konteks yang berbeda. (Ini mengingatkan saya pada Abdul Ghaffar Khan, pemimpin Muslim perbatasan India-Afghanistan yang memang kawan dan pengikut Gandhi, yang sering sekali disebut “The Frontier Gandhi”, seakan tidak ada yang khas dari Khan dibanding Gandhi.)

Banyak pula orang mengusulkan agar Edhi dianugerahi Nobel Perdamaian. Selain oleh para aktivis kemanusiaan di Pakistan dan seluruh dunia, usulan itu juga disampaikan Malala Yousafzai, perempuan belia Pakistan yang dianugerahi hadiah itu pada 2014 (bersama Kailash Satyarthi, aktivis hak-hak anak dari India). Hingga akhir hayatnya, Edhi tak memperoleh penghargaan itu.

Saya duga Edhi juga tak pusing dengan sebutan dan penghargaan di atas. Dalam satu kesempatan dia menyatakan, “Saya mengharapkan hadiah yang lebih baik dari Allah, ketika nanti tiba saatnya saya berjumpa dengan-Nya.”

Pada diri Edhi, saya menyaksikan contoh bagaimana Islam yang benar, yang merupakan rahmat bagi semesta alam itu, dijalankan dengan baik. Dengan sendirinya tanpa pamrih dan kesombongan, riya’. Terima kasih, Sattar Edhi.

Ihsan Ali-Fauzi

..........TERKAIT..........

1 komentar:

  1. Kami Hadir Untuk Menjalin Tali Silatuh Rahmi,Guna Untuk Membantu Para Masyarakat Di Muka Bumi Ini ,Dengan Segala Permasalahan Yang Ada,Karena Di Dalam Masyarakat Yang Kita Tahu Saat Sekarang Ini,Masih Banyak Masyarakat Yang Hidup Dibawah Garis Kemiskinan,Untuk Itu,Izinkan Saya Mbah Karwo Untuk Memberikan Solusi Terbaik Untuk Anda Yang Sangat Membutuhkan.Ada Berbagai Cara Untuk Membantu Mengatasi Masalah Perekonomian,Dengan Jalan ; 1,Melalui Angka Togel Jitu ; Supranatural 2,Pesugihan Serba Bisa 3,Pesugihan Uang Balik/Bank ghaib 4,Ilmu Pengasihan 5,DLL HANYA DENGAN BERMODALKAN KEPERCAYAAN DAN KEYAKINAN,INSYA ALLAH ITU SEMUANYA AKAN BERHASIL SESUAI DENGAN KEINGINAN ANDA... Dunia yang akan mewujudkan impian anda dalam sekejab dan menuntaskan masalah keuangan anda dalam waktu yang singkat. Mungkin tidak pernah terpikir dalam hidup kita untuk menyentuh hal hal seperti ini. Ketika terpikirkan kekuasaan, uang dalam genggaman, semua bisa dikendalikan sesuai keinginan kita.Semua bisa diselesaikan secara logika.Tapi akankah logika selalu bisa menyelesaikan masalah kita. Pesugihan Mbah Karwo Mbah memiliki ilmu supranatural yang bisa menghasilkan angka angka putaran togel yang sangat mengagumkan, ini sudah di buktikan member bahkan yang sudah merasakan kemenangan(berhasil), baik di indonesia maupun di luar negeri.. ritual khusus di laksanakan di tempat tertentu, hasil ritual bisa menghasilkan angka 2D,3D,4D,5D.6D. sesuai permintaan pasien.Mbah bisa menembus semua jenis putaran togel. baik itu SGP/HK/Malaysia/Sydnei, maupun putaran lainnya. Mbah Akan Membantu Anda Dengan Angka Ghoib Yang Sangat Mengagumkan "Kunci keberhasilan anda adalah harus optimis karena dengan optimis.. angka hasil ritual pasti berhasil !! BERGABUNGLAH DAN RAIH KEMENANGAN ANDA..! Tapi Ingat Kami Hanya Memberikan Angka Ritual Kami Hanya Kepada Anda Yang Benar-benar dengan sangat Membutuhkan Angka Ritual Kami .. Kunci Kami Anda Harus OPTIMIS Angka Bakal Tembus…Hanya dengan Sebuah Optimis Anda bisa Menang…!!! Apakah anda Termasuk dalam Kategori Ini 1. Di Lilit Hutang 2. Selalu kalah Dalam Bermain Togel 3. Barang berharga Anda Sudah Habis Buat Judi Togel 4. Anda Sudah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang tepat Jangan Anda Putus Asa…Selama Mentari Masih Bersinar Masih Ada Harapan Untuk Hari Esok.Kami akan membantu anda semua dengan Angka Ritual Kami..Anda Cukup Mengganti Biaya Ritual Angka Nya Saja… Apabila Anda Ingin Mendapatkan Nomor Jitu 2D 3D 4D 6D Dari Mbah Karwo Selama Lima Kali Putaran,Silahkan Bergabung dengan Uang Pendaftaran Paket 2D Sebesar Rp. 500.000 Paket 3D Sebesar Rp. 700.000 Paket 4D Sebesar Rp. 1.000.000 Paket 6D Sebesar Rp. 1.500.000 dikirim Ke Rekening BRI.Atas Nama:No Rekening PENDAFTARAN MEMBER FORMAT PENDAFTARAN KETIK: Nama Anda#Kota Anda#Kabupaten#Togel SGP/HKG#DLL LALU kirim ke no HP : ( 0852-3162-7267 ) SILAHKAN HUBUNGI EYANG GURU:0852-3162-7267

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...