Rabu, 22 Desember 2010

NASIONALISME DAN TEORI PASAR

MELAMBUNGNYA harga tiket final AFF Suzuki putaran kedua pada 29 Desember nanti dikeluhkan banyak pihak. Kenaikan harga tiket yang diumumkan PSSI sebagai panitia lokal penyelenggaraan hampir dua kali lipat.

Tiket termurah sebesar Rp75.000, sedangkan yang termahal seharga Rp1 juta. Sementara pada laga semifinal harga tiket termurah Rp50.000 dan termahal Rp550.000. Sebelumnya pada babak penyisihan, harga tiket termurah Rp50.000 dan termahal Rp225.000. Jika mengacu pada teori pasar atau prinsip ekonomi, kenaikan harga tiket dari babak ke babak memang wajar. Ketika demand (permintaan) tinggi harga jual akan naik. Begitu juga dengan produk.

Ketika nilai produk semakin tinggi, semakin tinggi pula harga dari produk tersebut. Pada perhelatan piala AFF Suzuki 2010 antusiasme pendukung Tim Nasional (Timnas) Indonesia semakin tinggi. Keinginan masyarakat atau dalam bahasa teori pasar (ekonomi) demand yang semakin tinggi dapat dilihat dengan dipenuhinya Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan setiap Firman Utina dkk bertanding.

Kualitas babak final tentu mempunyai nilai jual lebih tinggi dari babak penyisihan maupun babak final. Pertandingan babak final yang dalam teori pasar (ekonomi) sebagai produk nilainya semakin tinggi yang berimbas pada meningginya nilai jual. Sebagai perbandingan, harga tiket pada laga semifinal antara Malaysia dan Vietnam yang digelar di Stadion Bukit Jalil sebesar RM20 (Rp58.000) dan RM40 (Rp116.000).

Pada laga final putaran pertama antara Malaysia dan Indonesia yang digelar di Stadion Bukit Jalil Malaysia nanti harga tiket hanya RM30 (Rp87.000) dan paling mahal RM50 (Rp145.000).Kenaikan tak seberapa (hanya RM10) oleh FAM (PSSI-nya Malaysia) pun menuai protes dari masyarakat Malaysia. Nilai ini tentu sangat jauh dengan harga tiket yang ditetapkan PSSI pada laga final pada 29 Desember nanti. Nah, PSSI menggunakan pendekatan teori pasar dalam melakukan penjualan tiket.

Sedangkan para pendukung Timnas Indonesia selama mendukung tidak menggunakan teori pasar atau ekonomi, tapi menggunakan pendekatan kecintaan terhadap Garuda (nasionalisme). Mereka rela datang dari kota di luar Jakarta hanya untuk mendukung Timnas Indonesia langsung ke Stadion. Banyak pendukung yang rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli aksesoris dukungan terhadap Timnas. Mereka rela membuang waktu bekerja mereka untuk berteriak dan berdesakan untuk meneror lawan Timnas.

Sangat disayangkan, ketika jutaan pendukung Timnas Indonesia menggunakan pendekatan nasionalisme, justru PSSI menggunakan pendekatan teori pasar dengan melambungkan harga tiket. Alasan menaikkan harga tiket (selain alasan teori pasar) adalah untuk membatasi jumlah penonton yang masuk ke Stadion Gelora Bung Karno pada laga final nanti tampaknya kurang masuk akal. Berapa pun harga tiketnya, pasti akan dibeli oleh para pendukung yang mempunyai nasionalisme tinggi.

Langkah panitia dengan membatasi jumlah penonton yang masuk ke stadion dengan membuat empat layar lebar untuk nonton bareng (nobar) pada laga semifinal adalah langkah yang sudah tepat. Cara tersebut yang juga digunakan negara-negara Eropa ketika menggelar hajatan sepak bola tingkat internasional. Bukan hanya layar lebar, panitia lokal bahkan membuat fans festival (fanfest) untuk menampung para supporter yang tidak mendapat tiket agar menyaksikan langsung di stadion.

Di fanfest tersebut, panitia membuat sebuah hiburan sekaligus menggelar nobar dengan kemasan hiburan. Cara ini cukup jitu menampung emosi para supporter yang gagal masuk ke stadion. Lalu mengapa, PSSI tidak bisa meniru gaya-gaya negara-negara Eropa untuk menggelar fanfest dengan menggandeng pihak swasta? Melambungnya harga tiket final AFF Suzuki 2010 melukai para pendukung Timnas Indonesia.

Rasa nasionalisme tinggi yang dimiliki para supporter dibalas prinsip ekonomi oleh PSSI demi meraup keuntungan dengan dalih pembinaan. PSSI harusnya bisa lebih arif untuk mempertimbangkan penurunan harga tiket. Apalagi ada disparitas yang sangat jauh antara harga tiket gelaran final putaran pertama yang digelar di Malaysia dan final putaran dua di Indonesia.

Apalagi para pendukung sudah “terluka” pada pelayanan penjualan tiket di semifinal karena banyak yang mempunyai tiket, tapi tidak bisa masuk ke stadion. Demi “Garuda di Dadaku”, kita tunggu kearifan dari para pejabat kita di PSSI untuk meninjau ulang kenaikan harga tiket pada laga final AFF Suzuki 2010 29 Desember nanti.(*)

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...