Jumat, 21 Juni 2013

Makna “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah”

Sejak pertengahan atau akhir abad ke-19 M hingga kini, kaum Muslim telah melalui dua periode dalam sikap hidup mereka. Napoleon dengan ekspe­disinya ke Mesir telah membuka mata umat Islam, bahkan menghentakkan mereka, bahwa ada sesuatu yang “luar biasa” yang telah terjadi pada belahan lain dunia. Itu bagi yang sadar bahwa ada belahan lain dunia selain Dunia Islam, sebab ada yang menduga bahwa dunia ini adalah dunia tempat ia berpijak.

Terlepas apakah yang luar biasa itu berupa api yang membakar atau cahaya yang menerangi, namun yang jelas ia melahirkan sesuatu yang positif, yakni kesadaran tentang keterbelakangannya. Te­tapi, ada juga segi negatifnya, karena yang silau dengan gemerlapan api atau cahaya itu sebagian berupaya meraihnya tanpa menyeleksi, atau berusaha menutupi kelemahan dengan mengingat­-ingat kejayaan lama dan mengada-ada bila tidak menemukan sesuatu yang dapat dibanggakan.

Hilangnya kepercayaan diri melihat kemajuan pihak lain ini dijadikan kompensasi untuk melahir­kan apa yang dikenal sebagai “sastra kebanggaan dan kejayaan masa lampau” dalam dunia sastra Arab; sementara dalam bidang tafsir, setiap ada penemuan baru diklaim bahwa “penemuan tersebut sudah dibi­carakan dalam Al-Quran.” Demikian sebagian umat terbius dengan sukses dan dakwaan sukses masa lalu. Situasi inilah yang terjadi pada periode pertama.

Pada periode kedua, umat Islam bangkit untuk menemukan identitasnya dan mempertahankan ajar­an agamanya. Ini adalah sesuatu yang baik, meski­pun di sisi lain tetap mengandung segi negatif. Kalau dalam periode pertama sebagian umat berupaya meniru segala yang dihasilkan oleh Dunia Barat, maka pada periode kedua ada juga yang berusaha mempertahankan segala yang dihasilkan oleh le­luhur. “Tidak berjaya umat ini, kecuali bila menem­puh apa yang ditempuh oleh leluhur,” begitulah semboyannya. Kemudian lahir semboyan yang hing­ga kini masih terdengar: “Marilah kita kembali ke­pada Al-Quran dan Sunnah.” Kita semua tentu saja setuju, tetapi bagaimana cara kembalinya?

Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. adalah redaksi yang termaktub (tertulis). Keduanya merupakan ka­limat-kalimat yang sangat indah. Namun, karena berwujud bahasa, maka sama dengan sebagaimana halnya se­mua bahasa – keduanya dapat memiliki aneka fungsi. Ada yang memfungsikannya pada sisi keindahan langgam dan iramanya. Sebagian penyair yang dike­cam Al-Quran, yang menggunakan bahasa sekadar untuk tujuan itu, digambarkan sebagai mereka me­ngembara di tiap-tiap lembah dan suka mengucapkan apa yang mereka sendiri tidak akan melakukannya (QS 26: 225).

Ada lagi yang menggunakan bahasa pada “na­ma-namanya” bukan pada esensinya. Kaum musyrik menamai berhala mereka tuhan. Kata Al-Quran: Itu hanya nama-nama yang kamu dan orangtua kamu menamainya demikian, sedangkan tidak ada kekuatan yang diberikan oleh Allah atas nama-nama itu (QS 53:23).

Bahasa atau nama-nama itu baru berfungsi de­ngan baik bila ada kekuatannya, sedangkan kekuat­an bahasa bukan terletak pada langgamnya, tetapi apa yang terdapat di balik langgam atau nama itu. Sebagai contoh, kalimat “kereta akan bertolak pukul sembilan” tidak banyak artinya bagi sang musafir bila ia tidak bergerak sehingga berada di stasiun sebelum jam itu. Jika ia hanya menghafal dan mengulanginya ribuan kali, maka kalimat itu sekadar menjadi nama tanpa kekuatan. Demikian juga halnya jika kita kem­bali kepada Al-Quran dan Sunnah tetapi terbatas pada pesona langgam dan iramanya, atau “nama-­namanya” belaka.

Benar bahwa untuk kebangkitan kita harus kem­bali kepada Al-Quran, tetapi kembali ini harus de­ngan cara sebagaimana yang diajarkannya.[]

Lentera Hati: M. Quraish Shihab

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...