Selasa, 20 September 2011

MEMFUNGSIKAN AL-QURAN

MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), yang memperlombakan beberapa segi kemahiran dalam bidang Al-Quran, sudah merupakan tradisi positif yang sudah di lembagakan oleh pemerintah. Tidak diragukan besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat menyangkut penyelenggaraan MTQ. Tidak kecil pula dana dan biaya yang dikerahkan untuk mensukseskannya. Dampak positif dari perlombaan-perlombaan tersebut dapat dirasakan baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, disadari pula bahwa sisi yang terpenting dari kehadiran Al-Quran belum banyak dirasakan dalam pentas kehidupan bermasyarkat.

Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-nas (petunjuk untuk seluruh umat manusia). Inilah fungsi utama kehadirannya. Dalam rangka penjelasan tentang fungsi Al-Quran ini, Allah menegaskan: Kitab Suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem-problem kehidupan manusia (QS 2:213). Kita yakin bahwa para sahabat Nabi Muhammad saw, seandainya hidup pada saat ini, pasti akan memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran sedikit atau banyak -berbeda dengan pemahaman mereka sendiri yang telah tercatat literatur keagamaan. Karena pemahaman manusia terhadap sesuatu tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman-pengalaman, di samping kecenderunga dan latar belakang pendidikannya.

Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya cendekiawan Muslim, adalah bagaimana memfungsikan Kitab Suci, yaitu bagaimana menangkap pesan-pesannya dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami petunjuk-petunjuknya tanpa mengabaikan – apalagi mengorbankan – budaya dan perkembangan positif masyarakat. Sebagian umat kita memfungsikan Al-Quran sebagai mukjizat. Padahal fungsinya sebagai mukjizat hanya ditujukan kepada yang meragukannya sebagai firman Allah. Sikap semacam ini antara lain mengantarkan kita pada mencari-cari ayat Al-Quran untuk dijadikan bukti bahwa Kitab Suci ini telah mendahului penemuan-penemuan ilmiah abad modern – suatu usaha yang tidak jarang “ memperkosa” ayat-ayat itu sendiri.

Di sisi lain, kemukjizatannya dipahami oleh sebagian umat sebagai keampuhan ayat-ayat Al-Quran untuk melahirkan hal-hal yang tidak rasional. Ini bukan berarti saya mengingkari adanya hal-hal yang bersifat suprarasional atau supranatural. Hanya saja, umat harus disadarkan bahwa benang yang memisahkan suprarasional dengan irasional amatlah tipis, sehingga jika tidak waspada, seorang dapat terjerumus ke lembah khurafât ( takhayul). Lebih-lebih lagi kalau dingat bahwa Al-Quran sendiri menegaskan bahwa al-imdad al-ghaiby, yang didalamnya terdapat segala macam yang supra itu, tidak mungkin akan tiba tanpa didahului usaha manusia yang wajar, rasional, dan natural.[]

Lentera Hati: M. Quraish Shihab

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...