Sabtu, 12 Februari 2011

Menelan Sastra: Tentang Mencintai dengan Sederhana

oleh Aira Ya Aira pada 04 Februari 2011 pukul 9:50

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Supardi Djoko Damono, (1989)

Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya dengan “yang lain” yang terus saling tumpang tindih dengan rasa benci. Pada akhirnya cinta dan benci memiliki pengertiannya sendiri di benak masing-masing individu.

Di antara hingar-bingar keanekaragaman yang terus menyeret kita ke dalamnya, arti cinta semakin sulit diterka dalam momen-momennya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan menghunuskan cinta, koruptor menyelip cinta dan iklan pun menyatakan cinta. Seolah cinta terus menampak, mengolah dirinya dan muncul menjadi sesuatu itu. Bagaimana Sapardi (sebagai penyair) menorehkan rupa cinta?

Saya sedikit bingung, apakah pembacaan saya atas puisi beliau merupakan “saya” atau puisi itu sendiri. Sebab Sapardi pernah bilang, (kurang lebih begini maksudnya) jika puisi diterjemahkan maka hasil darinya adalah pengalaman penerjemah sendiri atas puisi tersebut dan tidak lagi menghadirkan puisi itu utuh seperti sedia kala. Tapi bagaimanapun saya dibikin bingung oleh ungkapan-ungkapan yang seperti itu, saya tetap merayakannya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Pada baris pertama dari bait pertama ini saya terfokus pada nuansa kata “sederhana”. Kata ini mengategorikan keadaan (sifat) dari ungkapan sebelumnya, yaitu “mencintai”. Terlepas dari keterkaitannya dengan kata yang lain, kita akan mengandaikan kata tersebut dengan keseharian yang kita temui. “Sederhana” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Cet. Ke-3: 1990) dikategorikan kata sifat yang memiliki arti: sedang, bersahaja, tidak banyak seluk-beluknya, dsb. Di sana dicontohkan: hidupnya selalu bersahaja. Dalam baris Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, menghadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. “Mencinta” di sini hadir dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.

Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata “sederhana”, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna “sederhana”. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata “sederhana”, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.

Ada sebuah ketertundaan pada maksud “…kata yang tak sempat diucapkan…”, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. “Kata” menjadi medium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari “kayu” yang sampai pada tahap tertentu lantaran “api”, yaitu “abu”.

Kata” jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimakasih kayu akan tergambar. Bisa jadi ungkapan dari “ kata” menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika “kata” tak sempat diutarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana. Yang Meniadakan.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sedari tadi saya terusik dengan ungkapan metaforis© dari sajak ini. Saya bertanya-tanya, “kenapa ungkapannya menggunakan sesuatu yang saling meniadakan (api meniadakan kayu, hujan meniadakan awan)? Bukankah ini tentang cinta yang notabene tentang keutuhan?”. Namun saya tersadar setelah menyimak lebih lekat kata “sederhana”. Karena menurut pandangan sementara saya, baris-baris selanjutnya bermuara pada kata itu. Di lain hal, penggunaan metafor tersebut tidak mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjutan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud selanjutnya. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.

Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampaian” pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.

Saya kira untuk menemukan yang lebih dalam tentang cinta, (dan mencinta) dalam sajak ini, selanjutnya adalah tugas anda. Karena bagaimana pun pengalaman diri mencinta juga ikut terlibat dalam menemukan rupa cinta pada sajak ini.

Apakah sesungguhnya yang terselip di balik ungkapan metaforis yang saling meniadakan dalam sajak di atas?

========================================

Komentar-Komentar:
----------------------------------------
Aira Ya Aira
bagi anda yg dengan mudah mengucap, memutuskan dan menyebutkan cinta...
*mohon bimbingannya!*
blank gw baca beberapa larik puisi sapardi!
-sigh-
sederhana!?
sederhana apa!?
04 Februari pukul 9:54
----------------------------------------
Comel Melzy
Lw az blank
Palagi gw
04 Februari pukul 10:05
----------------------------------------
Nies Azura Toushirou
otak gw ga nyampe
04 Februari pukul 10:14
----------------------------------------
Aira Ya Aira
jiah!?
bukannya kalian penggemar berat cinta!? :g
04 Februari pukul 10:17
----------------------------------------
Aira Ya Aira
tidak ada yg mau membantuku, sigh...
04 Februari pukul 10:18
----------------------------------------
Muhammad Abid
‎0. Dalam kenyataan, di masa kini, kata "sederhana" justru menjadi "kemewahan" yang hanya dimiliki oleh segelintir orang.
1. Dalam pikiran, tidak ada yang sederhana, apalagi remeh, termasuk kata "sederhana" itu sendiri. Saya tidak ingat kalimat berikut ciptaan siapa: "Ketika sesuatu dianggap remeh, kesalahan pertama telah dimulai". Jadi, dalam pikiran, hal yang paling sederhana adalah: "Tidak ada yang sederhana jika dipikirkan".
2. Cinta? Sesuatu yang selalu terbentur ke sana-sini ketika dicoba untuk didefinisikan. Saya pernah membaca buku berjudul TIADA MAWAR TANPA DURI: PSIKOLOGI BARU TENTANG CINTA, NILAI TRADISIONAL, DAN PERTUMBUHAN SPIRITUAL, oleh M. Scott Peck, dialihbahasakan oleh Firmus Kudadiri dan Andre Karokaro. Saya kehilangan buku terbitan Erlangga ini dan hingga sekarang selalu gagal saya temukan di internet. Pengaruh utama dari buku ini kepada saya adalah saya sependapat dengan penulisnya bahwa:

a. Cinta (seperti iman) adalah keputusan/pilihan.
b. Karena itu ia berbeda dengan JATUH CINTA atau ASMARA yang lebih merupakan SESUATU YANG MENERPA (PERASAAN).
c. Cinta (seperti iman) tak dapat didefinisikan secara utuh. Seperti warna, ia hanya dapat ditunjukkan. Manusia hanya dapat mengatakan bahwa ini bukan cinta atau itu juga bukan cinta. Pengenalan (ma'rifat) dan pemahaman sejati tentang cinta, hanya dapat manusia capai setelah menyingkirkan segala sesuatu YANG BUKAN CINTA.

Butuh waktu yang panjang untuk mendiskusikan poin a-c tersebut, tanpa bantuan teks dan hanya mengandalkan ingatan serta analisa pribadi.
Salam.
05 Februari pukul 15:44
----------------------------------------
Aira Ya Aira
anda pernah ikut seminar!? :D
saya suka uraian diatas.. :)
salam,
05 Februari pukul 18:17
----------------------------------------
Muhammad Abid
Tidak. Heheh... Saya belajar otodidak. Akrab dengan pikiran banyak orang meski tak pernah berhubungan secara nyata.
05 Februari pukul 19:54
----------------------------------------
Muhammad Abid
Bolehkah catatan + komentar-komentar ini saya posting di blog saya, berikut link ke akun penulis dan komentatornya?
10 Februari pukul 22:40
----------------------------------------
Aira Ya Aira ‎:)
11 Februari pukul 9:23
----------------------------------------
Muhammad Abid Yes or no?
11 Februari pukul 23:02
----------------------------------------
Aira Ya Aira silakan.... :)
11 Februari pukul 23:13

..........TERKAIT..........

1 komentar:

  1. @Muhammad Abid
    Sependapat dengan anda.
    maaf saya baru menemukan blog ini sekarang, setelah usia posting lewat 2 tahun.
    "tiada mawar tanpa duri", disadur dari "the road less traveled", secara logis menjelaskan mengenai "cinta" sebagai manifestasi pemikiran sadar dan berkorelasi positif. "cinta" samasekali bukan "nafsu"

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...