Senin, 10 Januari 2011

Pria Membeli Layanan Seks karena Ia Bisa

Sudahkah Anda membaca buku Jakarta Undercover (2002, 2003, 2007) karya Moamar Emka? Apa yang Anda rasakan saat orang lain mengetahui bahwa Anda membaca buku itu? Apakah Anda merasa jadi orang yang "gaul", karena mengetahui realitas kehidupan malam berikut bisnis seksnya yang jauh di luar bayangan Anda?

Terlepas dari fakta bahwa buku tersebut ditulis berdasarkan investigasi mendalam dari penulisnya, tidakkah ada sesuatu yang mengusik pikiran Anda, bahwa perempuan hanya diposisikan sebagai obyek di buku itu?

Jakarta Undercover, begitu juga buku-buku lain yang ditulis oleh para lelaki untuk mengangkat bisnis layanan seks perempuan, jelas sangat tidak berpihak kepada perempuan, demikian tegas Nori Andriyani, penulis buku Jakarta Uncovered: Membongkar Kemaksiatan, Membangun Kesadaran Baru. "... Saya tidak menangkap adanya pemikiran bahwa fenomena yang mereka bahas adalah sebuah masalah yang mendesak. Juga tidak ada pemikiran bahwa yang menjadi penyebab masalah adalah kaum lelaki, dan kaum perempuan yang dilacurkan adalah korban. Bahkan sebaliknya lebih ada kesan bahwa fenomena itu sesuatu yang fun," demikian tulis Nori di halaman 62 bukunya.

Sambutan hangat terhadap buku-buku yang membahas bisnis seks menunjukkan bahwa masyarakat saat ini sudah semakin pasif menghadapi masalah tingkah laku lelaki yang memiliki kebiasaan membeli layanan seks perempuan. Buku Emka bukannya dikritisi, malah semakin dicari hingga terbit tiga seri, dan dibuatkan filmnya.

Kepasifan masyarakat atas kenyataan maraknya bisnis layanan seks ini disebabkan budaya patriarki yang telah membuat masyarakat menganggap wajar tingkah laku lelaki tersebut. Budaya patriarki, atau budaya ketika kaum lelaki memiliki posisi yang lebih berkuasa dibanding perempuan, sangat dominan di Indonesia. Apalagi, kehidupan masyarakat di kota-kota besar sudah sangat individual, sehingga apa yang dilakukan orang lain tidak berhak dicampuri.

Mengapa pria menggunakan jasa seks bayaran?

Pertanyaan ini sangat menggelitik Nori. Namun ia menemukan jawaban yang sangat sederhana: karena mereka bisa. Mereka merasa bisa, karena mempunyai uang untuk membayarnya. Uang menciptakan kekuasaan, dalam hal ini berupa pemilikan harta, uang, dan posisi dominan terhadap perempuan. Karena membayar, lelaki merasa bebas menuntut bentuk layanan yang diinginkannya. Memiliki uang memungkinkan lelaki untuk tergoda, mencoba, dan bukan tidak mungkin menjadi tergantung (addicted) pada seks bayaran.

Selain faktor kekuasaan yang terutama berupa uang, lelaki memiliki 1001 pembenaran untuk menjadi pembeli layanan seks bayaran perempuan agar si lelaki dapat pergi dengan damai menikmati panti pijat plus-plus, karaoke mesum, spa plus-plus, dan short time di hotel, begitu kata Nori di halaman 24. Berbagai bentuk pembenaran ini intinya sebenarnya satu, yaitu menempatkan lelaki dalam posisi dominan, berkuasa, dan hegemonik terhadap perempuan.

"Salah satu bentuk pembenaran ini adalah, pria merasa berjasa karena telah memberikan keuntungan (uang bayaran) kepada pihak perempuan," papar Nori, saat diskusi mengenai Jakarta Uncovered, yang berlangsung di kantor The Women Research Institute, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (2/12/2010) lalu. Dengan pria memakai jasa mereka, perempuan jadi memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk menghidupi dirinya.

Cara berpikir seperti ini tidak melihat konteks historis para perempuan tersebut. Mayoritas perempuan ini adalah korban dari kemiskinan struktural, akibat adanya sistem yang tidak adil bagi perempuan. Misalnya, sistem yang ada tidak memberikan pendidikan gratis sampai tingkat yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai pekerja profesional. Jadi, bukan karena para perempuan itu malas mencari pekerjaan yang lain.

Nori tidak setuju bila pelacuran disebut sebagai pekerjaan atau profesi. "Apakah itu pilihan hidup yang bebas? Apakah mereka memang mau melakukannya? Itu bukan pekerjaan, tapi keterpaksaan. Saya yakin, tidak ada orang yang dengan bangga mengatakan, 'Profesi saya adalah pelacur!'" tutur lulusan Kajian Wanita Memorial University of Newfoundland, Kanada, ini.

Tidak dipungkiri bahwa sebagian kecil perempuan mungkin menceburkan diri ke dalam bisnis seks bayaran karena ingin hidup enak dengan cara mudah. Namun mereka ini tetaplah korban, yaitu korban dari budaya kapitalisme yang mendorong orang untuk menjadi hedonis. Sistem kapitalisme mendorong orang untuk hidup konsumtif, sekaligus menjadi barang dagangan yang bisa dibeli.

Konteks historis lainnya adalah adanya kemungkinan para perempuan ini merupakan korban perdagangan seks yang mengalami kekerasan fisik, psikologis, dan jeratan utang. Modus umumnya adalah, para perempuan ini ditawari pekerjaan bergaji besar di luar negeri, namun ternyata sesampai di negara tujuan mereka dipaksa bekerja memberi layanan seks.

Masih banyak pembenaran lain yang disampaikan Nori dalam bukunya. Salah satunya adalah, para pria menganggap penggunaan layanan seks bayaran ini sebagai bentuk pernyataan kekuatan persaudaraan antarkaum lelaki. Suka atau tidak, "inilah dunia lelaki".

Dengan bergabung di forum-forum komunikasi di internet, kaum lelaki merasa mereka bukan satu-satunya yang memiliki hobi membeli seks. Bila ada komunitas yang menggunakan layanan seks berbayar ini artinya, aktivitas ini adalah sesuatu yang lumrah dilakukan. Dengan saling berbagi informasi, mereka bisa saling menguatkan, dan mungkin juga mengurangi rasa bersalah. Bahkan sebaliknya, bisa saling menyombongkan diri tentang pengalaman mereka di internet.

Berbagai pembenaran ini memang sudah mengakar kuat sejak lama. Namun bukan tak mungkin untuk dibongkar. Melalui studi kasusnya, Nori ingin mengajak para pembacanya -lelaki maupun perempuan- untuk lebih peduli dengan masalah ini. Sekali lagi, ini bukan hanya masalah perempuan yang menjadi penjaja seks tersebut, melainkan masalah kita bersama. Kalau kita saja tidak mau peduli, bagaimana dengan para lelaki?

Sumber: Jakarta Uncovered: Membongkar Kemaksiatan, Membangun Kesadaran Baru

..........TERKAIT..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...